
Perkembangan teknologi di tahun 2026 berjalan begitu cepat. Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi konsumsi masyarakat industri saja, melainkan sudah berada di genggaman anak-anak kita. Sayangnya, lompatan teknologi ini tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan kemampuan literasi yang memadai.
Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh viralnya video rekayasa AI buatan anak usia sekolah dasar yang sempat memicu keresahan warga. Di sisi lain, laporan nasional terbaru menunjukkan bahwa hasil capaian literasi dan numerasi pelajar kita masih dalam kategori "Darurat Literasi." Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Tanpa pondasi literasi yang kuat, anak-anak kita tidak hanya tertinggal secara akademis, tetapi juga rentan menjadi korban—atau bahkan pelaku—dari penyalahgunaan teknologi digital.
Teknologi seperti pisau bermata dua. Ketika anak-anak memiliki akses tanpa batas ke dunia digital tanpa dibekali kemampuan berpikir kritis (critical thinking), beberapa dampak nyata yang kini sedang marak terjadi antara lain: